Sudah agak basi gosipnya tapi aku tergugah kembali untuk menceritakan kasih
Tuhan yang dasyat..
Aku sedih aku sendiri..
Aku patah hati lagi dan sendiri lagi..
Tapi aku tak sesedih seperti waktu itu
Waktu dimana aku harus berjuang
mempercayai cinta itu kembali
Waktu dimana aku harus melepas semua kenangan manis meneteskan duka..
Waktu dimana aku melihat, dimana aku harus tegar menghadapinya..
Yaya aku tak sesedih waktu itu..
Kali ini aku tegar..
Air mata yang menetes dipipiku seperti hanya sekedar ungkapan wajib ketika
putus cinta, tapi tak menyayat hati terlalu dalam..
Ada baiknya juga hatiku hancur berkeping-keping waktu itu..
Aku diajar untuk tegar rupanya
Tapi karena aku memang manusia, aku tetap sedih dan hancur
Dan dihadapkan kembali pada suatu kenyataan diamana aku harus kembali
berjuang mempercayai cinta itu..
Tapi kini aku sendiri tanpa sejuta kegiatan yang menyelubungiku seperti
waktu itu, sehingga aku tak larut dalam kesedihan.
Ya aku sendiri sekarang..
Apa yang harus aku lakukan?
Dimana aku sedang bersedih..
Aku sedang jatuh sakit..
Suasana ruang-ruang kamar yang sepi tak berpenghuni.. hanya aku yang ada di
situ..
Sahabat-sahabatku sudah tak berada dalam kamar hening itu..
Keluargaku, sudah jelas mereka tak tepat berada disampingku saat itu..
Dan aku dihadapkan pada tugas yang tak sanggup ku kerjakan malam itu..
Ketika hari dimana kelamnya malam mulai menyelubungi ruang kamar yang sepi
oleh diamnya aku..
Mataku tertuju pada sesuatu yang sudah lama tak aku baca..
Terpajang paling depan dari susunan buku-buku itu..
Alkitab namanya dan buku Sekolah Sabat pendampingnya..
Tepat sekali Tuhan memberi jawaban pada saat itu..
Aku mulai dengan membaca ayat hafalan pada minggu itu..
”Bergembiralah
akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu harus berdukacita oleh berbagai-bagai
pencobaan” (1 Petrus 1:6)
Hatiku tertegun dan aku mulai berdoa..
Sungguh baik Allahku..
Aku tak dibiarkannya sendiri..
Ada Dia menemaniku dalam kesendirianku..
Dan aku tersenyum kembali..